Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

SEJARAH SYEKHERMANIA

"SEJARAH SYEKHERMANIA"
Sebelumnya dari penulis atau yang punya gagasan (Inisiator) menyampaikan terima kasih dan mohon maaf yang sebesar besarnya. bilamana dalam penyampaian nanti sekira kurang bijak dan ada sesuatu yang kurang berkenan di hati pembaca.
SYEKHERMANIA adalah nama sebuah Komunitas Pecinta Al Habib Syekh Bin Abdul Qadir Assegaf dari Solo Jawa Tengah Indonesia. Beliau adalah Pengasuh Majlis Dzikir, Ta'lim dan Sholawat "AHBAABUL MUSTHOFA". Dalam cara Beliau berdakwah kecuali dengan mengajak Jama'ahnya dalam berDzikir mendekatkan diri dan mencintai ALLAH Subhanahu wa ta'alaa. juga dengan membaca Sholawat secara bersama sama untuk menyanjung dan mencintai Baginda Nabi MUHAMMAD Shollallahu 'alaihi wa sallam.

"Segala sesuatu bisa di ambil kemanfa'atannya
, walaupun itu terkesan kurang baik di awalnya. sebagaimana sarana internet dengan dunia mayanya. bila bisa mengambil hal positif di dalamnya, pastilah besar manfa'…

MARS SYEKHERMANIA

"MARS SYEKHERMANIA" Kami ini syekhermania
Selalu setia bersahaja
Membela agama bangsa dan negara
Bersholawat dimana-mana Kami ini syekhermania
Berlaku baik berakhlak mulia
Selalu bersholawat meninggalkan maksiat
Mencintai nabi muhammad Kami ini syekhermania
Pecinta habib syekh bin A.A
Dimana bersholawat kami semua ada
Karna kami syekhermania Kami ini syekhermania
Bersholawat dimana mana
Panas tak apa apa, hujan pun kami terpa
Karna kami syekhermania Kami ini syekhermania
Menginginkan bangsa sejahtera
Ayolah semua berdasar pancasila
Demi indonesia tercinta Kami ini pecinta nabi
Selalu bersikap baik hati
Meninggalkan yang keji melakukan yang pasti
Dan bertaqwa pada illahi Rosulullah idola kami
Para habaib guru kami
Selalu istiqomah, berakhlakul karimah
Setia mengajak beribadah Kami semua cinta rosulullah
Kami semua sayang rosulullah
Disini kami seemua rindu - rosulullah berharap syafaat rosulullah Allah allah allahu allah
Almadad almadad
Madad ya rosulallah

BIOGRAFI HABIB SYEKH BIN ABDUL QADIR AS-SEGAF

Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf adalah salah satu putra dari 16 bersaudara putra-putri Alm. Al-Habib Abdulkadir bin Abdurrahman Assegaf ( tokoh alim dan imam Masjid Jami’ Asegaf di Pasar Kliwon Solo), berawal dari pendidikan yang diberikan oleh guru besarnya yang sekaligus ayah handa tercinta, Habib Syech mendalami ajaran agama dan Ahlaq leluhurnya. Berlanjut sambung pendidikan tersebut oleh paman beliau Alm. Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf yang datang dari Hadramaout. Habib Syech juga mendapat pendidikan, dukungan penuh dan perhatian dari Alm. Al-Imam, Al-Arifbillah, Al-Habib Muhammad Anis bin Alwiy Al-Habsyi (Imam Masjid Riyadh dan pemegang magom Al-Habsyi). Berkat segala bimbingan, nasehat, serta kesabaranya, Habib Syech bin Abdulkadir Assegaf menapaki hari untuk senantiasa melakukan syiar cinta Rosul yang diawali dari Kota Solo. Waktu demi waktu berjalan mengiringi syiar cinta Rosulnya, tanpa disadari banyak umat yang tertarik dan mengikuti majelisnya, hingga sa…

SEJARAH MAJELIS RASULULLAH

Nama “Majelis Rasulullah SAW” dalam aktifitas dakwah ini berawal ketika Habib Mundzir Almusawa lulus dari Belajarnya di Darul Mushtofa pimpinan Al Allamah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz Tarim Hadramaut, Yaman. Beliau kembali ke Jakarta dan memulai berdakwah pada tahun 1998 dengan mengajak orang bertobat dan mencintai Nabi Muhammad SAW yang dengan itu ummat ini akan pula mencintai sunnahnya, dan menjadikan Rasul SAW sebagai Idola. Al Habib Mundzir mulai berdakwah siang dan malam dari rumah ke rumah di Jakarta, ia tidur di mana saja di rumah-rumah masyarakat, bahkan pernah ia tertidur di teras rumah orang karena penghuni rumah sudah tidur dan ia tak mau membangunkan mereka di larut malam. Setelah berjalan kurang lebih enam bulan, Hb Munzir memulai membuka Majelis setiap malam selasa sebagai bentuk peneladanan dan mengikuti jejak gurunya Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz yang membuka Majelis setiap malam selasa. Al Habib Mundzir membuka majeli…

AKAR IDEOLOGI PMII

Oleh : Imam Cahyono

Abstract

Student movement is a part of history in Indonesia that always active to take a part of every change period. They called as an agent of change. However, there is not enough data, principally ideology, to explain the attribute. This article tries to investigate ideology of student movement, especially Islamic student movement in Indonesia. Among them are: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Dipo, HMI MPO, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) and Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). The article also explored their political expression

Keywords: ideologi, teologi, politik, gerakan, mahasiswa Islam

Pendahuluan

Keberadaan gerakan mahasiswa dalam konstelasi sosial politik di negeri ini tak bisa dipandang sebelah mata. Diakui atau tidak, keberadaan mereka menjadi salah satu kekuatan yang selalu dipertimbangkan oleh berbagai kelompok kepentingan (interest group) terutama pengambil kebijakan, yakni negara…

SEJARAH PMII

Akhirnya forum menyetujui nama “PMII”, singkatan dari “Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia”, setelah melalui beberapa perdebatan. Apakah PMII itu singkatan dari “Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia” atau “Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia?” Ternyata permasalahannya mengerucut pada haruf “P”. Kemudian atas dasar pemikiran bahwa sifat mahasiswa itu diantaranya harus aktif, dinamis atau bergerak (movement). Selanjutnya mendapat awalan “Per” dan akhiran “an”, maka disepakati huruf “P” kependekan dari “Pergerakan”. Makna “Pergerakan” yang terkandung dalam PMII adalah Dinamika dari hamba (makhluk) yang senantiasa bergerak menuju tujuan idealnya memberikan rahmat bagi alam sekitarnya. Dalam konteks individual, komunitas maupun organisatoris, kiprah PMII harus senantiasa mencerminkan pergerakannya menuju kondisi yang labih baik sebagai perwujudan tanggung jawabnya memberi rahmat pada lingkungannya. “Pergerakan” dalam hubungannya dengan organisasi mahasiswa menuntut upay…

NU DAN NEGARA ISLAM

Sebuah pertanyaan diajukan kepada penulis: apakah reaksi NU (Nahdlatul Ulama) terhadap gagasan Negara Islam (NI), yang dikembangkan oleh beberapa partai politik yang menggunakan nama tersebut? Pertanyaan ini sangat menarik untuk dikaji terlebih dahulu dan dicarikan jawaban yang tepat atasnya. Inilah untuk pertama kali organisasi yang didirikan tahun 1926 ini ingin diketahui orang bagaimana pandangannya mengenai NI. Ini juga berarti, keinginntahuan akan hubungan NU dan keadaan bernegara yang kita jalani sekarang ini dipersoalkan orang. Dengan kata lain, masalah pendapat NU sekarang bukan hanya  menjadi masalah intern organisasi saja, melainkan sudah menjadi “bagian” dari kesadaran umum bangsa kita. Dengan upaya menjawab pertanyaan tersebut, penulis ingin menjadi bagian dari proses berpikir yang sangat luas seperti itu, sebuah keinginan yang pantas-pantas saja dimiliki seseorang yang sudah sejak lama tergoda oleh gagasan NI. Dalam sebuah tesis MA -yang dibuatnya beberapa…

GUS DUR DAN IKHWANUL MUSLIMIN

Gus Dur ‘ternyata’ pernah menjadi simpatisan Ikhwanul Muslimin (IM). Bahkan ia hampir mendirikan cabang IM ini di Indonesia. Saya kasih tanda petik kata ‘ternyata’, karena hal ini mungkin banyak tidak diketahui oleh Gusdurian, para pengagum GD, dan juga barangkali mengejutkan bagi mereka yang anti-GD. Bagaimana ceritanya? Sejak kecil GD sudah gemar membaca. Pada usia belasan hingga 20an minat bacanya meluas dan meningkat ke berbagai macam jenis bacaan: ideologi, sastra, agama, ilmu dan teori sosial, filsafat. Rasa ingin tahunya begitu besar dan sangat haus pada ide-ide baru. Di hamparan lautan bacaan dan di tengah perubahan sosial dan pertarungan Perang Dingin ideologi politik yang menyala saat itu, maka seperti anak muda umumnya, GD juga mengalami krisis identitas ketika hendak merumuskan peran dan tempatnya. Ia mencari tapi sekaligus dengan itu mempertanyakan banyak hal. Ia terpesona pada Marxisme tapi terganggu dengan pandangan antagonismenya pada agama dan penerapann…

PERKEMBANGAN NAHDLATUL ULAMA

NU dan Pesantren Tebuireng Sampai tahun 1980-an, cukup banyak pengamat Barat yang menulis tentang dinamika Islam di Indonesia. Umumnya mereka berpihak kepada Muhammadiyah dan mengkualifikasi Nahdlatul Ulama sebagai gerakan yang tidak dinamis. Istilah nahdlah (kebangkitan) jarang diterjemahkan, sementara NU sering digambarkan sebagai reaksi negatif terhadap gerakan kaum reformis dan modernis. Hal itu terlihat antara lain dalam buku Clifford Geertz, Religion of Java (terbitan pertama, 1960), dan karya orientalis lain seperti James Peacock.

Sejak awal, memang sudah ada gambaran yang terkesan kontradiktif dalam NU. Meskipun, bagi orang yang cermat, hal itu dapat dipahami. Di satu sisi, NU terlihat sebagai ‘gejala Jawa Timur”, ndesa (rural), sementara pemimpinnya terbatas pada keluarga besar ‘Hasyimiyah”, yang mengacu pada keluarga besar K.H. Hasyim Asyari, sang pendiri.

Disebut “gejala Jawa Timur’, sebab sejak awal hingga kini pengaruh terkuat dan terbesar dalam …